Saat ada waktu libur saya bersama 7 teman lainnya memakai waktu libur untuk mengunjungi Monumen Nasional. Kami pergi bersama-sama pada jam 10. Sebelum jam 10 kami sudah berkumpul di rumah Anan, karena kami berangkat bersama Ibunya Anan.
Jam 12 tepat kami sampai di Monumen Nasional. Saat ditaman sekitar Monas Dinda berkata "Akhirnya selama 13tahun tinggal di Jakarta sampai juga ke Monas". Seketika semua langsung tertawa. Untuk masuk kedalam Monas kami harus membeli tiket terlebih dahulu. Harga yang cukup murah untuk pelajar yaitu Rp.2000,00 . Kami langsung menuju kedalam Monas.
Didalam Monas terdapat banyak cerita sejarah tentang kota Jakarta, sedikit menyerupai museum. Seketika Arik dan Dinda langsung naik tangga dan keluar menuju teras Monas. Untuk mempercepat waktu juga karena sudah siang kami langsung menuju untuk naik ke Puncak Monas.
Untuk menuju lift untuk naik ke Puncak Monas kami melewati suatu ruang yang terdapat ruang kemerdekaan. Ruangan tersebut belum dibuka dan kami hanya mengintip dari bolongan pintu tersebut. Kami melihat sinar kuning menurut kami itu adalah sinar emas padahal kami tidak tahu itu apa. Ruang kemerdekaan akan dibuka pada jam 2. Karena kami tidak ingin menunggu kami langsung menuju lift untuk naik ke Puncak Monas.
Antrian yang cukup panjang harus kami lewati untuk memasuki lift terebut. Karena paada hari itu juga banyak sekolah yang mengadakan studytour ke Monas jadi ramai pada hari itu. Antrian kami pun akhirnya sampai paling depan dan kami menunggu lift terbuka. Setelah berada dalam lift cukup lama untuk menuju puncak yang memang sangat tinggi.
Setelah sesampainya kami di Puncak Monas kami langsung mengambil beberapa foto tentang keadaan Ibu Kota Jakarta. Ada juga teropong yang membuat kita melihat lebih jelas dan kami mulai memperebutkan teropong tersebut. Selain foto Risya juga merekam kami ketika di Puncak Monas.
![]() |
| Pemandangan Jakarta Dari Atas Monas |
Namun tidak lama kemudian Farah mengeluh dia pusing dan mukanya yang pucet. Saya rasa dia terlalu lelah karena dari awal sampai kami belum istirahat sedikitpun. Kami langsung bergegas turus karena takut Farah pingsan. Kami menuju teras Monas dan duduk di pinggiran memakan bekal masing-masing yang kami bawa. Tapi ada beberapa anak yang tidak membawa bekal jadi kami harus keluar monas dan mencari warung makan.
![]() |
| Narsis di warung |
![]() |
| Arik dan Dinda |
Dinda dan Arik sibuk main Diamond yang mereka temukan di Monas.
Farah sibuk membacakan puisi yang dia buat disamping saya.
Anan dan Alif sibuk bermain HP. Risya dan Farhany sibuk membicarakan sesuatu yang mereka perbincangkan. Kami juga sibuk berfoto namun foto yang tersimpan hanya satu.
Waktu yang menjelang sore akhirnyapun kami pualng dengan rasa bahagia dan lelah....




2 komentar:
Monas ini memang landmarknya Jakarta. Sayang kalau sudah di atas agak sulit memandang ke kejauhan karena ada seperti asap. mungkin polusi sih ya
iya karena kota Jakarta yang padat dengan kendaraan bermotor
Posting Komentar